Showing posts with label He Has Spoken By His Son (Kisah Perjanjian Baru). Show all posts
Showing posts with label He Has Spoken By His Son (Kisah Perjanjian Baru). Show all posts

28 August 2015

Kisah no. 91

Yesus layak diurapi dengan minyak wangi yang mahal (Yohanes 12:1-8, Markus 14:3-9)

Setelah peristiwa Yesus disambut dengan meriah di Yerusalem dan mengajar banyak hal di sana, Yesus sempat kembali ke kota Betania memenuhi undangan Simon. Dia menjamu Yesus di rumahnya sebagai ucapan terima kasih karena Yesus pernah menyembuhkannya dari sakit kusta. Perjamuan makan itu juga dihadiri Lazarus dan Martha. Seperti biasa Martha sibuk membantu istri Simon menyiapkan jamuan. Maria tidak nampak ada bersama-sama dengan mereka. Kemana dia? Rupanya Maria sedang pergi membeli sesuatu.
Ketika Lazarus mendapat undangan ke rumah Simon dan tahu bahwa Yesuslah tamu istimewa yang Simon undang, ia segera mengumpulkan adik-adiknya. Akhirnya mereka sepakat bahwa mereka juga akan ikut hadir di perjamuan itu. Seperti Simon yang memakai waktu itu untuk berterima kasih kepada Yesus, maka mereka pun memikirkan sesuatu untuk menunjukkan syukur mereka kepada Yesus. Mereka mengumpulkan uang mereka bersama. Terkumpul cukup banyak tabungan mereka, tidak disisakan, semua untuk Yesus. Seperti yang diusulkan Maria, mereka akan membeli sebotol minyak narwastu. Minyak wangi itu sangat mahal dan sukar di dapat, biasanya dibawa pedagang dari India Utara. Satu buli-buli seberat lebih kurang setengah liter bisa seharga upah pekerja 1 tahun. Ketika mereka hitung semua tabungan yang ada, senanglah hati mereka, cukup.
Cukup lama perjamuan makan itu berlangsung ketika Maria masuk ke dalam ruangan. Dia menggenggam satu buli-buli dari pualam. Setelah meminta ijin, dia mendekati Yesus. Biasanya buli-buli itu memiliki lubang mulut yang kecil, karena memang minyak itu keluar setetes demi setetes. Setetes minyak narwastu cukup untuk mengharumkan tubuh. Tapi Maria justru mematahkan leher dari buli-buli itu sehingga minyak wangi mengalir deras. Minyak itu dicurahkannya ke kepala Yesus lalu dicurahkannya juga ke kaki Yesus. Disekanya kaki itu dengan rambutnya seperti dulu pernah dilakukan seorang perempuan yang juga mengurapi Yesus (Lukas 7:38). Keharuman narwastu itu memenuhi seluruh ruangan. Setelah selesai Maria segera duduk disebelah Lazarus dan Martha. Tersirat wajah mereka penuh kebahagiaan. Harta mereka selama ini telah berubah menjadi minyak berbau harum yang mengurapi tubuh Yesus. Tak sedikitpun hati mereka kecewa karena kehilangan harta mereka, karena bagi mereka Yesuslah yang paling berharga.
Justru muka Yudas, murid Yesus yang cemberut. Ditegornya Maria. PEMBOROSAN. Bahkan kalau minyak itu dijual bisa diberikan kepada orang miskin. Sebenarnya dia mengatakan itu bukan karena peduli dengan orang miskin, tapi seandainya uang itu diberikan kepada dia sebagai bendahara di antara murid-murid Yesus tentunya dia bisa mengambilnya beberapa untuk dia pribadi, seperti yang selama ini dia lakukan. Murid-murid yang lain setuju dengan Yudas. Ini memang pemborosan. Yesus dengan tegas membela Maria, “Biarkan dia, jangan memarahi dia. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku”. Agak aneh Maria meminyaki Yesus yang masih hidup. Tapi bagi Yesus justru Maria telah memilih waktu yang tepat untuk menunjukkan kasihnya. Banyak orang baru menunjukkan kasihnya pada saat yang  bersangkutan sudah meninggal. Meminyaki tubuh yang terkujur mati. Jangan menunda untuk menunjukkan kasih, menunjukkan penyembahan kepada Allah, sekarang waktu yang tepat.
Maria seperti pedagang yang menemukan mutiara lalu menjual semua yang dia miliki untuk mendapatkan mutiara itu (Matius 13:45-46). Yesuslah mutiara itu.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Pernahkan Anda melihat kehidupan seseorang yang hidup mengutamakan Allah di atas segalanya? Bagaimana kehidupan mereka?
2.       Yudas memandang begitu tinggi nilai minyak narwastu yang dipecahkan, celakanya dia memandang murah Yesus saat menjualnya seharga 30 keping perak (harga seorang budak waktu itu). Menurut Anda pada masa sekarang apakah ada di antara anak-anak Tuhan yang hidup dengan sikap hati seperti Yudas? Dalam bentuk tindakan seperti apa nilai Yesus mereka rendahkan?
3.       Pernahkah Anda berpikir untuk mengatur pengeluaran Anda agar ada lebih banyak yang bisa diberikan untuk pekerjaan Tuhan? Apa yang akan Anda lakukan?


Kisah no. 92

Yesus merayakan Paskah dengan murid-murid-Nya (Lukas 22:7-20)

Permulaan Paskah ditandai dengan hari raya Roti Tidak Beragi. Selama satu minggu orang Israel tidak makan roti yang menggunakan ragi. Karena ragi dianggap sebagai lambang dari kebusukan hati. Yesus sangat ingin merayakan perjamuan Paskah dengan murid-murid-Nya karena ia tahu itu akan menjadi perjamuan terakhir bagi Dia. Disuruhnyalah Petrus dan Yohanes mencari tempat untuk mereka bisa merayakan perjamuan Paskah. Sebuah perintah rahasia diberikan karena waktu itu imam-imam sedang berusaha menangkap Yesus. Setelah menemukan ruangan yang cukup besar di lantai atas sebuah rumah milik seorang pengikut Yesus yang setia, Petrus dan Yohanes segera menyediakan segala keperluan Paskah.
                Sesampainya Yesus di tempat itu segeralah mereka duduk melingkar di seputar meja. Hidangan paskah tersedia di depan mereka. Ada roti bundar yang kering dan renyah, sayuran pahit, dan domba yang telah dibakar. Tulang-tulang domba itu tidak boleh dipatahkan sama sekali. Juga disediakan anggur merah. Semuanya itu melambangkan bagaimana Allah menolong Israel bebas dari Mesir. Yesus pun mulai perjamuan itu dengan berkata kepada murid-murid: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita”. Itulah kerinduan Yesus, melalui perjamuan Paskah yang kudus itu. Rindu agar rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari kutuk dosa akan digenapi pada Paskah yang sesungguhnya yang akan segera berlangsung. Paskah yang lama dilambangkan dengan domba yang tak bercacat cela, namun Paskah yang sesungguhnya Dialah yang akan menjadi domba sejati penebusan dosa manusia melalui kematian di kayu salib. Yesus juga melanjutkan perkataan-Nya, “Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah." Kerinduan yang juga timbul dalam hati Yesus adalah akan datang waktunya nanti ketika semua manusia yang diselamatkannya berkumpul dari segala bangsa bersama mengadakan pesta perjamuan yang meriah di Kerajaan-Nya yang akan datang (Wahyu 5:9-10). Sebelum melanjutkan perjamuan, Yesus berdiri untuk membasuh tangan. Namun ada yang menarik perhatiannya. Murid-murid-Nya sedang berbantah-bantahan. Apa yang diributkan?      
Biasanya dalam perjamuan makan seperti itu, ada seorang pelayan yang akan membasuh kaki para tamu. Atau seseorang yang dianggap yang terendah statusnya yang akan melakukannya. Rupanya tidak ada seorangpun di antara murid-murid Yesus yang mau dianggap yang terendah. Mereka mulai berdebat siapa yang paling besar, terhormat di antara mereka. Sebenarnya sudah berkali-kali Yesus mengajarkan bahwa dalam prinsip Kerajaan Allah yang melayanilah yang terbesar. Yesus berdiri dan menanggalkan jubahnya. Kali ini Dia akan mencontohkan sendiri bagaimana kebesaran seseorang didapat ketika ia melayani. Diambilnya kain lenan dan diikatnya di pinggang, persis seperti yang biasa dilakukan oleh seorang pelayan. Lalu mulailah Dia membasuh kaki murid-murid-Ny dengan air pembasuhan yang tersedia. Disekanya kaki-kaki itu dengan kain lenan yang ada di pinggangnya. Raut muka malu terlihat di wajah murid-murid. Setelah selesai dan duduk kembali Yesus kembali menegaskan terhormatnya mereka yang memiliki hati untuk melayani. Tanya Yesus, “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”
                Mereka pun mulai melaksanakan perjamuan Paskah sesuai dengan urutan dan maknanya. Pertama-tama mereka minum anggur, lalu makan sayur pahit, roti tidak beragi dan daging domba. Sementara cawan anggur diisi kedua kali, selayaknya seorang ayah dalam keluarga, Yesus menceritakan ulang bagaimana dulu orang Israel keluar dari negeri Mesir. Bebas dari perbudakan Mesir. Lalu tiba-tiba Yesus menetapkan sesuatu atas perjamuan Paskah itu. Mulai hari itu setiap kali murid-murid mengadakan perjamuan, maka mereka harus mengingat bahwa Paskah tidak lagi memperingati tentang keluarnya Israel dari Mesir, tapi bebasnya manusia dari perbudakan dosa. Ketika mereka minum anggur dan makan roti yang Yesus pecahkan, hendaklah murid-murid mengingat bahwa itu adalah gambaran darah dan tubuh Yesus yang akan diserahkan di kayu salib untuk menjadi korban penebusan dosa manusia. Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Lalu diambilnya cawan yang diisi anggur ketiga kalinya; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu”. Sekali lagi cawan diisi dan mereka minum bersama. Demikian Yesus menetapkan perjamuan kudus yang masih diingat dan dirayakan oleh mereka yang menerima penyerahan tubuh dan pencurahan darah Yesus sebagai tanda keselamatan dan pengudusan.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Apa isi hati Allah bagi manusia di dunia seperti yang dicatat di Wahyu 5:9-10? Apa yang Anda bisa lakukan untuk terlibat mewujudkannya?
2.       Apa yang menjadi penghalang dalam hidup Anda untuk memiliki hati dan hidup yang melayani?
3.       Apa arti perjamuan kudus bagi Anda?


27 August 2015

Kisah no. 93
Bukan kehendakku, tapi kehendakMu yang jadi (Markus 14:32-52; Matius 26:36-46; Lukas 39-53)

Tibalah waktu-waktu terakhir sebelum Yesus ditangkap. Dia mengajak murid-murid-Nya ke sebuah taman Zaitun yang disebut orang Getsemani (kilang minyak zaitun). Di taman ini Yesus sering berdoa. Sesampai di taman itu Yesus masuk mengajak Petrus, Yohanes dan Yakobus. Perasaan takut dan gentar menghinggapiNya. Kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah”. Yesus beranjak masuk lebih dalam seorang diri, berlutut dn berdoa. Dalam doa, Ia memohon kepada Bapa-Nya untuk mengambil cawan yang harus terima. Dalam budaya Israel, kepala keluarga akan membagi-bagi jatah makan dan minuman kepada anak-anaknya dalam cawan. Kiasan ini dipakai juga untuk menunjukkan bahwa Allah juga menentukan bagian dan nasib setiap orang. Ada yang menerima sukacita, namun juga ada yang menerima dukacita dalam cawannya (Mazmur 11:6; 16:5; 75:9).
                Kali ini isi cawan Yesus sangat pahit. Penderitaan dan saliblah isinya. Tak kuat harus meminumnya, Yesus pun memohon agar Bapa mengambil cawan itu. Namun, tetap Ia menyerahkannya kepada kehendak Bapa. Setelah hampir 1 jam bergumul, Yesus bangkit berdiri dan akan mengajak murid-murid-Nya bergumul bersama. Tapi didapati-Nya mereka bertiga tertidur lelap. Tanya Yesus kepada Simon Petrus, murid yang selama ini terkenal sangat berapi-api mengikut Dia. "Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah." Belum juga mereka sadar, Yesus kembali ke tengah taman dan berdoa kembali. Sekarang doa-Nya penuh penyerahan diri agar kehendak Bapalah yang terjadi. Beberapa lama kemudian Ia kembali ingin mengajak murid-murid-Nya berdoa, namun sekali lagi didapati-Nya mereka sedang tidur. Kembaliah Yesus untuk ketiga kalinya, di tengah taman zaitun itu, Ia berlutut dan berdoa. Ketakutan itu masih saja menggentarkan hati dan megetarkan tubuh-Nya. Di malam yang dingin itu, peluh-Nya menetes seperti titik-titik darah. Pergumulan yang sangat berat.
Pernah satu kali Yesus bergumul di atas gunung, waktu itu Bapa datang dalam awan kemuliaan dan suara yang memberi kekuatan kepada Yesus untuk menyelesaikan misi-Nya di dunia. Kali ini dalam rupa seorang malaikat, dihampiri-Nya Yesus (Lukas 22:43). Walau tanpa gemuruh suara, hening, kehadiran malaikat itu cukup memberi kekuatan untuk Yesus. Murid-murid terdekat-Nya tidak sanggup menemani dan menguatkan Yesus. Hanya Bapa yang selalu setia dan sedia menguatkan-Nya. Yesus berdiri. Salib tak terhindarkan, jalan itulah satu-satunya yang harus Yesus tempuh. Jalan penderitaan yang berujung selesainya misi Yesus di dunia, menyelamatkan umat manusia. Jalan itu memang berat, hanya saja Yesus tidak akan menghindarinya. Berjalanlah Yesus menuju salib dengan kekuatan Bapa yang menyertai-Nya. Segera Dia kembali ke murid-murid-Nya yang masih juga jatuh tertidur. Di kejauhan terlihat cahaya-cahaya yang datang mendekat. Sepertinya cahaya-cahay itu berasal dari cahaya obor. Yesus segera membangunkan mereka. “Bangun, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."
Tiba-tiba, Yudas sang pengkhianat itu berlari-larian mendekati Yesus. Ia hendak mencium Yesus. Yesus menolak dan bertanya, “Apakah kau ingin menyerahkan aku dengan ciumanmu?”. Tak lama kemudian datanglah rombongan tentara penjaga Bait Allah dipimpin imam-imam kepala, ikut serta dengan mereka tentara romawi. Rupanya isu yang dihembuskan adalah isu pemberontakan. Dengan penuh ketenangan Yesus menghadapi mereka. “Siapa yang kalian cari?”. “Yesus dari Nazaret”, jawab mereka. “Akulah Dia”, seru Yesus. Suara dari jawaban Yesus itu seperti angin yang mendera orang-orang yang berusaha menangkap-Nya. Mereka rebah ke tanah, termasuk Yudas. Yesus menunjukkan kuasa-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa penangkapan-Nya adalah karena kerelaan hati-Nya mengikuti kehendak Bapa. Mereka berdiri kembali. Yesus tetap tenang dan berkata, “Telah kukatakan kepada kalian Akulah Yesus dari Nazaret yang kamu cari. Silahkan jika kalian mau menangkap aku, tapi biarkan orang-orang yang bersama aku ini pergi”.
Majulah prajurit-prajurit itu hendak menangkap Yesus. Maju jugalah Petrus ke depan Yesus, dengan pedang pendeknya, ia maju menyerbu ke arah prajurit-prajurit itu. Diayunkan pedangnya ke arah seorang hamba dari Imam Besar bernama Malkhus. Telingan kanannya putus kena pedang Petrus. Melihat itu prajurit-prajurit segera mencabut pedang mereka. Sudah cukup alasan bagi mereka untuk membasmi tindakan pemberontakan seperti itu. Yesus tidak tinggal diam, ditariknya Petrus. Lalu Ia membungkuk mengambil potongan telinga yang tergeletak di tanah. Lalu Ia menempelkan kembali telinga itu. Malkus hanya bisa diam terkagum dengan mujizat yang Yesus lakukan itu. Yesus menoleh kepada Petrus  “Sarungkan pedangmu. Aku bisa saja meminta Bapaku mengirim pasukan malaikat untuk membela Aku. Tapi adalah rencana Bapa agar aku diserahkan ke tangan-tangan mereka”. Ini adalah  kisah tentang “bukan kehendakku, tapi kehendak-Mu yang jadi”
Yesus sendiri maju dan memberikan tangan-Nya. Masih dengan rasa takut melihat kehebatan kuasa Yesus, prajurit-prajurit itu mengikat Yesus. Melihat itu semua murid-murid Yesus menjadi kecewa dan ketakutan. Mereka bingung. Lari meninggalkan Yesus seorang diri.  Jalan salib Yesus telah dimulai di taman Getsemani.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Lukas 22:43 dituliskan bagaimana Allah mengutus malaikat untuk menguatkan Yesus. Sadarkah Anda dengan banyak cara dan bentuk Allah mengunjungi Anda agar kuat menghadapi pergumulan Anda? Kapan terakhir Anda mengalami kunjungan Allah tersebut? Ceritakanlah!
2.       Apa yang Anda bisa teladani dari kerelaan hati Yesus dalam mengikuti kehendak Allah Bapa di sorga? Apa yang akan Anda lakukan ke depan untuk mengikuti teladan itu?
3.  Apa halangan terbesar seseorang untuk berdoa “bukan kehendakku, tapi kehendak-Mu yang terjadi”?
4.  Bayangkan Anda ada di getsemani waktu itu. Di depan mata Anda, Yesus ditangkap. Apa yang ada di pikiran dan hati Anda? Adakah yang Anda ubah dalam hidup Anda?


Kisah no. 94
Petrus menyangkal Tuhan Yesus (Matius 26:69-75; Markus 14:66-72; Lukas 22:54-62; Yohanes 18:15-18, 25-27)
                Dari Getsemani Yesus dibawa ke rumah Imam Besar untuk disidang. Hanya 2 orang murid Yesus yang mengikuti rombongan itu dari jauh, Petrus dan Yohanes. Karena Yohanes kenal kerabat Imam Besar, maka ia bisa membawa masuk Petrus sampai ke dalam rumah Imam Besar yang megah sepeti istana. Yohanes masuk agak ke dalam sehingga bisa menyaksikan sidang perkara Yesus. Sementara Petrus hanya bisa melihat dari kejauahan dari serambi rumah itu. Pikirannya masih kacau. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami. Tak habis pikir, bagaimana mungkin gurunya yang berkuasa itu dengan mudah diikat dan ditangkap.
                Lamunannya dikejutkan oleh suara seorang perempuan, “Hei, bukankah orang ini bersama-sama dengan orang yang sedang disidang itu?”. Kaget sekali dia. Petrus segera menyangkal dan berlalu dari perempuan itu menuju ke pintu depan. Celaka sekali kalau sampai ketahuan bahwa dia adalah murid Yesus. Tidak beberapa lama, seorang hamba perempuan lain mendekati dia dan bertanya, “Bukankah kau juga seorang murid-Nya?”. Petrus tidak berani menatap wajah perempuan itu. Dia palingkan muka seraya menjawab pendek, “Bukan”. Dia segera menjauh.
                Sementara itu sidang perkara Yesus sudah selesai. Dia diseret keluar ke tengah-tengah serambi. Hamba-hamba Imam Besar mulai menyesah dan memukuli Yesus. Dari jauh Petrus dapat menyaksikan derita yang dialami Yesus. Tiba-tiba seorang laki-laki mendekatinya. Ia mengenali wajah Petrus. Dengan suara keras dia berteriak, “Kamu kan murid dari orang itu. Aku melihatmu di Getsemani”. Hamba-hamba yang lain segera berkerumun dan memperhatikan Petrus. Ketakutan meliputi hati Petrus. Ia menjawab setengah bersumpah, “Bukan! aku tidak kenal orang itu”. Tepat bersamaan dengan perkataan itu, ayam berkokok. Tepat juga seperti yang pernah dikatakan Yesus bahwa Petrus akan menyangkal Dia tiga kali sebelum ayam berkokok.
                Suara kokok ayam itu terdengar di telinga Petrus lebih keras dari biasanya. Suara kokok ayam itu seakan memecahkan kepalanya. Suara itu bercampur dengan suara guru yang dikasihinya, “Petrus, kamu akan menyangkalku”. Tepat bersamaan dengan itu, Yesus memandangnya. Dalam wajah bengkak yang berlumuran darah itu, Petrus masih melihat raut muka yang mengasihinya”. Hancur hatinya. Kesetiaannya sebagai murid Yesus selama ini menguap begitu saja. Kokok ayam dan pandangan Yesus adalah kombinasi yang indah untuk menghancurkan hati Petrus. Menyadarkan bahwa dia adalah manusia yang terbatas yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Yesus.Tepat seperti perkataan Yesus, ketika dia ditampi dia adalah gandum yang kosong tidak berbobot (Lukas 22:31-32).  Ia menangis dengan sedihnya. Tanda dia insaf.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Dengan cara apa pada masa sekarang banyak murid Yesus menyangkal Dia?
2.       Pernahkah Anda merasakan dukacita karena dosa yang Anda kerjakan? Bacalah 2Kor 7:9-10, temukan darimana dukacita itu berasal dan apa tujuannya?
3.       Allah bisa memakai kokok ayam yang sederhana untuk menghancurkan hati Petrus sehingga kembali kepada-Nya. Pernahkah Anda merasa tidak yakin ketika mengajar anak-anak tentang Allah Ragu-ragu saat memberi nasihat kepada mereka? Suara Anda memang sederhana. Kisah yang meluncur dari mulut Anda tidaklah ‘wah’. Ayo berdoa supaya tiap perkataan kita seperti kokok ayam yang menuntun anak-anak dalam pertobatan.



4.      
Kisah no. 95
Salibkan Dia (Markus 15:1-15; Matius 27:11-26)

 Imam-imam kepala telah mufakat menyerahkan Yesus ke hadapan wali negeri. Wali negeri adalah wakil pemerintah Romawi yang ditugaskan menjaga wilayah jajahan mereka. Wali negeri yang berkuasa waktu itu bernama Pilatus. Sesampainya di sana Pilatus menerima Yesus tapi tidak mau gegabah menghukum Dia. Sebagai seorang yang terpelajar ia menanyakan tuduhan-tuduhan yang mereka ajukan. Sebenarnya jelas imam-imam kepala dan ahli taurat menyerahkan Yesus karena benci dan dengkinya mereka kepada Yesus (ayat 10). Namun mereka tahu dihadapan hukum romawi mereka harus punya alasan yang kuat. Maka disusunlah dan dikemukakanlah 3 tuduhan. Pertama, Yesus telah menyesatkan bangsa mereka. Ini tuduhan dalam ranah agama dan pasti Pilatus tidak mau menghukum Yesus karena hal ini. Oleh sebab itu, mereka juga memberikan tuduhan yang bersifat politis.  Kedua, Yesus melarang orang membayar pajak kepada Kaisar Romawi. Ketiga, Yesus mengatakan, bahwa Dia adalah Kristus yang artinya Raja.
                Tiga tuduhan mereka tentu saja adalah tuduhan palsu belaka. Yesus tidak pernah melarang untuk membayar pajak, justru sebaliknya. Dia juga tidak pernah mengangkat diri-Nya sebagai Raja. Kalau Dia lakukan itu pasti sangat banyak pengikut-Nya karena bangsa itu memang sedang menantikan mesias yang datang sebagai pembebas dari penjajahan. Tapi justru Yesus menyatakan diri-Nya dengan berbeda dan menolak waktu orang-orang Yahudi ingin menjadikan Yesus sebagai raja dan memimpin pemberontakan. Dan inilah yang membuat orang-orang Yahudi itu marah dan membenci Yesus. Pilatus tentu saja tidak mudah terbawa perkataan-perkataan imam-imam kepala. Dibawanya masuk Yesus ke ruangannya. Pilatus bertanya kepada Yesus, “Apakah Engkau Raja ?”. Yesus menjawab, “Engkau yang mengatakannya. Untuk itulah aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksiaan tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Dengan senyum mengejek Pilatus menimpali, “Apakah kebenaran itu?”. Pilatus sadar bahwa tidak ada kesalahan dalam diri Yesus. Tidak mungkin orang seperti ini memimpin pemberontakan. Dia mengirim Yesus untuk diadili oleh Herodes, raja Israel, boneka penjajah romawi yang kebetulan sedang berada di Yerusalem. Tapi Herodes mengirim kembali Yesus kepada Pilatus.
                Pilatus jengkel dengan desakan imam-imam kepala yang didukung rakyat banyak itu. Dia dengan tegas katakan bahwa dia tidak menemukan kesalahan atas Yesus, Herodes pun tidak. Dia putuskan untuk menyesah Yesus lalu melepaskan Dia. Namun orang banyak yang sudah dihasut itu berteriak-teriak menuntut Yesus dihukum. Imam-imam kepala sudah mengatur supaya suara orang banyak itu menjadi tekanan bagi Pilatus. Jika permintaan mereka tidak dituruti akan terjadi kerusuhan. Terbersitlah akal Pilatus untuk membebaskan Yesus. Waktu itu dia berhak untuk memberikan kebebasan kepada seorang penjahat. Lalu Pilatus mengelurakan seorang penjahat masyarakat yang sangat mereka benci bernama Barabas. Dan memberikan pilihan siapa yang akan mereka pilih untuk dlepaskan. Pikir Pilatus pastilah Yesus yang mereka pilih. Barabas begitu jahat. Pada saat yang sama, datanglah sebuah surat dari istrinya. Rupanya semalam dia bermimpi bahwa orang yang akan dihukum Pilatus itu tidak bersalah. Dalam suratnya dia meminta suaminya agar tidak mencampuri perkara orang benar itu. Pilatus semakin bimbang. Dia terus berpikir bagaimana melepaskan Yesus. Dia berharap usahanya kali ini berhasil.
                Kaget sekali dia. Seruan orang banyak itu tidak seperti yang dia harapkan. “Bebaskan Barabas!”.
Suara orang banyak itu jelas meminta, “Salibkan Yesus”. Entah apa yang ada di hati mereka. Tega sekali mereka memilih seorang guru yang telah menyembuhkan banyak orang itu dihukum. Mereka biarkan seorang pembunuh untuk bebas, sedangkan Yesus yang sudah melayani mereka itu digiringnya menuju penghukuman paling mengerikan. Salib. Entah apa yang ada di hati Yesus waktu melihat dan mendengar seruan itu. “Salibkan dia!”.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Yesus menyebut diri-Nya sebagai sumber kebenaran. Apakah Anda sudah rutin mendengar suara-Nya? Bagaimana kebenaran-Nya menuntun hidup Anda?
2.       Menurut Anda bagaimana seseorang bisa melihat pekerjaan Tuhan yang penuh kasih dan kuasa tapi tetap menolak Dia?


Kisah no. 96

Raja Orang Yahudi (Matius 27:27-44; Markus 15:16-32; Lukas 23:26-38; Yohanes 19:1-22)
Pilatus semakin terpojok dengan keinginan orang banyak untuk menyalibkan Yesus. Dia perintahkan prajurit-prajuritnya untuk membawa Yesus masuk dan menyesah Dia. Pikirnya, orang banyak itu mungkin akan berhenti setelah melihat Yesus disiksa. Itu hukuman yang cukup. Pilatus meninggalkan mereka dan masuk ke rumah dinasnya. Prajurit-prajurit itu membawa Yesus masuk, lalu melepas jubah Yesus. Beberapa prajurit lalu mengayunkan cambuk dari tulang-tulang keras ke punggung Yesus. Kulit tubuh Yesus tercabik dan darah mengucur keluar. “Berhenti dulu!”, kata seorang perwira.
                “Aku dengar orang banyak itu berseru bahwa orang ini mengaku diri-Nya adalah Mesias, pembebas bangsa-Nya. Oleh sebab itu, jangan kita sembarangan memperlakukan-Nya. Dia ini Raja Orang Yahudi”, sambungnya dengan nada ejekan. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Segera mencari kain ungu lalu dipakaikan kepada Yesus seolah Dia sedang mengenakan jubah raja. Jubah seperti biasa dipakai seorang pahlawan masuk ke kota yang direbutnya. Diletakan sebuah buluh di tangan Yesus sebagai lambang tongkat raja. Tak berhenti di situ, mereka menganyam sebuah mahkota dari duri-duri dan memasangnya di kepala Yesus. Yesus didudukan, dan mereka berlutut di depan-Nya. “Salam hai Raja Orang Yahudi, kasihanilah kami, jangan hukum kami”, mereka memohon. Lalu peran itu di tukar. Seorang perwira berdiri dan berhasil mengalahkan pahlawan itu. Dagu Yesus ditinjunya dengan keras, sampai kepalnya mendongak ke atas. Dan tinju yang kedua juga melayang ke muka Yesus.
                Tiba-tiba drama keji itu berhenti. Pilatus datang. Dia melihat Yesus yang berlumuran dengan darah masih lengkap dengan jubah dan mahkota durinya. Yesus sudah disesah. Cukup. Perkara selesai. Demikian pikir Pilatus. Segera Yesus di bawa keluar dan ditunjukkan kepada orang banyak. Pilatus berdiri di depannya. “Lihat Dia sudah disesah, urusanku sudah selesai. Bawa Dia pergi”. Namun jawaban yang didapatnya adalah terikan ribut orang banyak. “Menagap engkau mengenakan mahkota itu kepada-Nya? Dia bukan raja kami. Dia bukan mesias, dia penghujat. Dia justru sudah menistakan bangsa kami. Salibkan Dia!”. Suasana semakin ramai. Pilatus mulai ragu-ragu. Suara pemimpin-pemimpin orang banyak itu terdengar di telinganya, “Tuan, menurut hukum kami, Dia harus mati karena telah menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah”.
                Memang itu adalah urusan agama. Pilatus tidak mendapatkan bukti bahwa Yesus melarang orang untuk membayar pajak kepada kaisar maupun bukti Dia akan memimpin pemberontakan. Dan alasan terkahir ini adalah alasa agama, dia tidak ada urusan dengan itu. Tapi setelah mendapat surat dari istrinya dan berita-berita yang dia dengar tentang kehebatan Yesus melakukan mujizat, ia penasaran. Dibawanya kembali Yesus masuk ke dalam. “Apakah benar Engkau mengaku diri-Mu adalah Anak Allah?”, tanyanya kepada Yesus. Yesus diam atas semua pertanyaan Pilatus. Geram hati Pilatus. Dengan nada membentak dia berseru, “Jawablah! Tidak tahukan kamu aku berkuasa untuk membebaskan maupun menghukum Engkau?”. Yesus tak gentar sedikitpun. Dengan suara pelan namun penuh ketegasan Ia menjawab, “Engkau tidak punya kuasa apapun terhadap Aku, jika kuasa itu tidak diberikan dari Allah kepadamu”. Entah kenapa Pilatus bisa merasakan ada kuasa dari jawab itu. Sepertinya benar dia sedang berhadapan dengan seorang raja. Tidak diketahuinya dengan benar bahwa memang yang berdiri di hadapannya adalah raja di atas segala raja.
                Pilatus semakin galau. Namun ditetapkan pendiriannya, bahwa ia tidak mau menghukum Yesus. Dibawanya lagi Yesus keluar. Disampaikan keputusannya. Namun tekanan terakhir dari orang banyak sangat memojokkannya. “Tuan, jika adan seorang yang menganggap dirinya raja, maka dia adalah musuh kaisar”. Mereka akan mengancam akan melaporkan masalah itu kepada kaisar. Inilah yang membuat Pilatus takut. Kaisar Tiberius, rajanya adalah seorang yang sesnsitif dengan isu pemberontakan. Jika perkara ini sampai dilaporkan kepadanya, karirnya bukan tidak mungkin hidupnya akan berkahir. Dia tidak mau meresikokan dirinya. Dalam sejarah beberapa tahun setelah itu (sekitar tahun 36m) Pilatus dihukum berat oleh kaisar karena kesalahan yang dia buat, dan Seianus orang yang selalu membelanya tidak bisa lagi menolong dia. Orang yang mengasihi nyawanya, justru akan kehilangan nyawanya.
                Di hadapan orang banyak itu, Pilatus membasuh tangannya. Dia berkata, “Kalian yang mendesak aku, tapi aku tidak bersalah atas darah orang ini”. Pemimpin agama dan orang banyak itu dengan berani menyahut, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami”. Sejarah juga mencatat, lebih kurang 40 tahun kemudian perkataan mereka tergenapi dengan sangat mengerikan. Anak cucu mereka diserang tentara romawi, hampir tiap hari 500 orang mati disalibkan.
                Setelah itu, Pilatus membawa Yesus maju ke depan. Didudukannya Yesus disebuah kursi pengadilan umum. “Inilah rajamu. Kalian sendiri yang telah menyalibkan dia”. Hukuman pun dijatuhkan. Bukanlah sebuah kebetulan jika status terakhir yang dinyatakan dalam proses persidangan Yesus adalah dia sebagai Raja orang Yahudi. Begitu juga di atas kayu salib-Nya kelak tergantung tulisan “Inilah Yesus orang Nazareth, Raja orang Yahudi”. Biasanya papan itu berisi alasan orang itu disalib. Yesus mengaku diri-Nya sebagai Anak Allah dan mengangkat diri-Nya sebagai Raja. Untuk alasan itulah Dia disalib sampai mati. Dan Dia ditolak. Bukankah dosa penolakkan itulah yang sedang ditebus Yesus. Kejatuhan manusia pertama dalam dosa adalah karena mereka menolak Allah menjadi raja atas hidup mereka. Mereka ingin menyamakan diri mereka dengan Allah dan melawan Dia. Inilah rencana Allah, Yesus mati sebagai Raja. Raja orang Yahudi. Raja atas semua manusia yang mau hidup dipimpin oleh-Nya.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Lebih banyak mana orang yang hidup mementingkan keselamatan dirinya sendiri atau menaati kehendak Allah? Bagaimana dengan Anda? Bacalah Matius 10:39!
2.       Menurut Anda bagaimanakah kehidupan manusia yang menjadikan Yesus sebagai raja atas hidupnya?
3.       Apa yang akan Anda lakukan jika mengetahui ada orang yang belum menjadikan Yesus sebagai raja atas hidup mereka?

Kisah no. 97

PERKATAAN YESUS YANG TERAKHIR (Matius 27:45-56; Markus 15:33-41; Lukas 23:39-49; Yohanes 19:23-30)
Vonis sudah dijatuhkan. Yesus akan disalib sampai mati. Salib adalah hukum yang kejam yang hanya dijatuhkan kepada budak atau penduduk bangsa jajahan. Mereka yang terhukum dibiarkan tergantung berjam-jam dalam kondisi setengah telanjang sampai mati. Luka-luka di tubuh mereka khususnya paku yang menancap di tangan kaki menimbulkan demam tinggi. Badan mereka menjadi kebas sampai akhirnya merenggut nyawa mereka. Orang Yahudi sendiri menganggap hukuman salib sebagai kutuk Allah (Ulangan 21:23; Galatia 3:13). Hukuman salib Yesus akan dilangsungkan di Bukit Golgota. Biasanya mereka akan menggendong salib mereka sebagai tanda mereka setuju dengan hasil persidangan. Rombongan itu dipimpin seorang perwira yang mengendarai kuda, diikuti tentara-tentara dan mereka yang terhukum. Ada beberapa tentara yang membawa papan bertuliskan kejahatan-kejahatan mereka yang terhukum. Papan itu akan ditempelkan di kayu salib masing-masing dari mereka. Penduduk Yerusalem juga berbondong-bondong ikut untuk menyaksikan penyaliban itu. Imam-imam dan ahli Taurat ada di antara mereka dengan senyum lega tanda kemenangan.
                Yesus yang telah disiksa dengan kejam itu tak sanggup lagi jika harus menggendong salibnya. Dia roboh di tengah jalan. Ada seorang pria yang sedang lewat disitu dipaksa oleh tentara menggantikan Yesus menggendong salib itu. Nama orang itu Simon, berasal dari Kirene di Afrika Utara. Dia sedang dalam perjalanan ke kota tapi diberhentikan dan dipaksa memikul salib Yesus. Ada catatan menarik tentang Simon, Markus menuliskan dalam Injilnya bahwa Simon adalah ayah dari Rufus, seorang pemimpin gereja mula-mula. Dalam Roma 16:13, rasul Paulus memberikan salam tanda hormatnya kepada Rufus. Kemungkinan besar Simon dulunya bukan seorang percaya, namun perjumpaan dan perjalanan di samping Yesus itu mengubah hidupnya menjadi orang percaya.
                Lebih kurang pukul 9, rombongan itu sampai di Gologota, bukit yang bentuknya menyerupai tengkorak. Bersama Yesus juga ada 2 orang terhukum lainnya. Baju mereka dilucuti sehingga hanya mengenakan kain pinggang. Tentara-tentara itu lalu mendirikan kayu salib berbentuk tanda tambah. Pada balok kayu pancang dipakukan sepotong kayu, sebagai tempat ‘duduk’ bagi mereka yang dihukum. Tangan dan dan kaki diikatkan dengan tali pada kayu salib, lalu dipaku. Sementara itu tentara-tentara mulai membagi harta milik orang hukuman. Sebagaimana mustinya seorang guru, pakaian Yesus ada lima bagian. Sementara jumlah tentara itu ada 4 orang. Yang seorang mendapat tutup kepala Yesus, lalu yang lain mendapat ikat pinggang. Yang ketiga mendapat bajunya, dan yang terakhir mendapat kasutnya. Tinggallah jubah (kituna) Yesus yang mahal. Lalu mereka buang undi. Ini adalah penggenapan Mazmur 22:19.
                Yesus tergantung di atas kayu salib di antar 2 orang penjahat. Imam-imam dan ahli Taurat menertawakan dan mengejek Dia. “Orang lain Dia selamatkan, tapi diri-Nya sendiri tidak bisa Dia selamatkan. Orang banyak ikut-ikutan mengolok-olok Yesus. Mendengar ejekan-ejekan itu, Yesus tidak membalas dengan kutukan. Dia justru berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Yesus mengampuni. Penjahat yang berada tergantung di sisi Yesus juga ikut mengejek Yesus. Tapi satu di antara mereka melihat Yesus dengan berbeda, ditegurnya temannya. Mereka memang layak dihukum di atas salib, tapi Yesus tidak layak. Sepertinya ia insaf siapa Yesus yang sebenarnya.Tulisan raja di atas salib Yesus mungkin dipakai Allah untuk berbicara dalam hati penjahat itu. Dia sedang dekat bersama seorang raja.  Dengan penuh hormat, ia memohon, “Yesus ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Yesus menjawab permohonan itu, “Sesungguhnya hari ini juga engkau bersama-sama aku di dalam sorga”.
                Di atas kayu salib, pandangan mata Yesus terpaku kepada wajah dukacita Maria, ibunya. Ibunya sedang berdiri dekat di bawah kayu salibnya ditemani orang-orang yang mengasihi-Nya. Berkatalah dia kepada Maria, “Ibu, inilah anakmu”. Dan kepada Yohanes yang ada di samping Maria, “inilah ibumu”. Rupanya Yesus sedang menitipkan Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi-Nya. Sejak saat itu Maria tinggal bersama keluarga Yohanes. Dalam kesakitan dan penderitaan-Nya, Yesus masih juga menyatakan pengampunan kepada orang-orang yang menista Dia, keselamatan kepada penjahat yang bertobat, dan kasih kepada orang-orang yang mengasihi-Nya.
                Pukul 12 siang. Tiba-tiba terjadi sebuah fenomena yang aneh. Langit menjadi gelap gulita. Lamanya 3 jam. Ketakutan mencekam orang banyak yang ada di situ. Tentara-tentara pun gentar. Sementara itu di salib-Nya, Yesus sedang diamuk demam. Sunyi sekali bukit tengkorak itu. Selama ini Dia bisa merasakan Bapa-Nya yang menerangi jalan-Nya. Kali ini gelap. Dia sangat merindukan terang itu. Memohon pertolongan Bapa, tapi Dia pergi menjauh. Seolah Yesus sedang menghadapi neraka, tempat terkutuk di mana Dia terpisah dengan Bapa-Nya. Rasa peri di hati-Nya meledak dalam sebuah teriakan keras, “Eli, Eli, lama sabakhtani”, yang artinya “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meniggalkan Aku?”. Ajaib. Selepas teriakan Yesus itu, gelap menyingkir dari langit Golgota. Tiga jam lamanya Ia bergumul dalam kegelapan dan kesendirian. Habis sudah daya-Nya. Kata-Nya kepada tentara Romawi, “Aku haus”. Seorang dari mereka memberi Yesus minum dari anggur asam. Minuman ini bukannya menyegarkan namun justru menambah rasa perih pada tubuh Yesus.
                Dengan sisa tenanga-Nya, Yesus berkata, “Sudah selesai”. Tugas-Nya selesai. Pengampunan dan pendamaian sudah tuntas dikerjakan-Nya. Teringatlah Dia semasa kecil orang tua-Nya selalu mengajak berdoa sebelum tidur seperti yang dicatat dalam Mazmur 31:6. Doa minta pengawasan ketika Ia tertidur. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawaku”. Diserukanlah doa itu untuk terakhir kalinya.  Teriakan itu adalah kalimat terakhir-Nya. Ia mati bersama semua dosa manusia. Ia mati bersama semua pergumulan manusia.
               
Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Apa makna salib dan kematian Yesus untuk Anda?
2.       Mengapa kematian Yesus dalam keadaan terkutuk di atas salib itu disebut sebagai kabar sukacita?
3.       Yesus telah menjadi contoh hidup kemauan untuk memikul salib. Dalam Matius 16:24, Yesus justru yang memberikan perintah bagi siapa saja yang mengikut Dia haruslah rela memikul salib untuk Dia. Apa salib pengikut Kristus pada jaman sekarang? Bagaimana respon Anda atas perintah Yesus tersebut?
4.       Bagaimana kita bisa membangun gereja sebagai tempat saling menerima dan mengasihi seperti yang ditunjukkan Yohanes kepada Maria? Pikirkan hal-hal praktis yang bisa dilakukan khususnya dalam kelompok kecil di mana Anda berada?




Kisah no. 99

Ia Bangkit, Sama Seperti Yang Telah Dikatakan-Nya (Matius 28:1-15; Yohanes 20:1-15)

Setelah Yesus dikuburkan, hari sabat tiba. Murid-murid punya kesempatan untuk beristrahat, namun hati mereka susah dan penuh duka. Setelah sabat lewat pada pukul 6 sore hari sabtu, beberapa wanita pergi membeli rempah-rempah untuk dioleskan ke mayat Yesus, supaya jenazah guru yang mereka kasihi itu awet. Keesokan harinya, pagi-pagi bernar, mereka bersama-sama pergi ke kubur Yesus. Nama-nama mereka adalah Maria istri Kleopas, Salome, Yohana dan Maria Magdalena, perempuan yang dilepaskan Yesus dari tujuh setan (Lukas 8:2). Sesampainya di sana, mereka sangat terkejut. Batu penutup kubur Yesus terguling. Kubur terbuka. Mereka curiga jangan-jangan ada orang yang mencuri tubuh Yesus. Mereka membagi tugas, Maria Magdalena disuruh kembali mengabarkan itu kepada murid-murid. Sementara tiga yang lain berjalan terus untuk memeriksa apa yang terjadi.
                Mereka tidak tahu, bahwa pagi-pagi benar sebelum mereka datang telah terjadi gempa bumi. Ketika Yesus mati bumi bergerak karena dukacita, kali ini bumi pun bergerak karena sukacita kebangkitan Rajanya. Tentara Romawi yang diperintahkan menjaga kubur itu sangat ketakutan. Tak berhenti sampai di situ, tiba-tiba muncul cahaya seterang kilat di depan mereka, dan sosok malaikat menghampiri mereka. Tanpa berpikir dua kali, mereka kabur. Malaikat itu menggulingkan batu besar penutup kubur Yesus. Lalu duduk di atasnya. Sesaat kemudian, Yesus keluar dari kuburan itu. Dia hidup. Maut telah dikalahkan-Nya. Raja itu hidup kembali.
                Dengan perasaan sedih bercampur penasaran, masuklah ketiga perempuan itu ke dalam kubur. Benar. Tidak dilihatnya tubuh Yesus di sana. Kubur itu kosong. Mereka panik. Segera mereka beranjak keluar hendak menyampaikan kabar itu. Namun, tiba-tibadua sosok malaikat dalam wujud seorang laki-laki muda dengan jubah putih berkilauan cahaya menampakkan diri di depan mereka. Mereka ketakutan dan tidak berani memandang dua malaikat itu. "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya”, kata malaikat. Ya benar. Yesus berkali-kali menceritakan tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Bagaimana mungkin mereka bisa melupakannya? Mereka begitu dirundung duka sehingga tidak mampu mengingat apa yang Yesus katakan. Itulah kecenderungan manusia tidak mampu mengingat janji Tuhan di kala masalah berat menerpa. Malaikat menyuruh mereka pergi ke Galilea. Di sana banyak yang mengenal dan mengikut Yesus. Mereka perlu mendengar kabar sukacita kebangkitan Yesus.
                Sementara itu Petrus dan Yohanes yang diberitahu Maria Magdalena bahwa tubuh Yesus telah dicuri, segera berlari ke kubur. Tubuh Yesus tidak ada di sana. Tapi pikiran mereka tahu, bukan pencuri pelakunya. Jangan-jangan. Yohanes menyadarkan Petrus. Ia bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya selama ini. Rupanya selama ini mereka telah mendengar janji kebangkitan Yesus, namun mereka melupakannya. Banyak orang mendengar janji Tuhan tidak dengan sepenuh hati dan akhirnya melupakannya. Segera mereka bergegas kembali ke Yerusalem. Mereka bagi tugas untuk mengabarkan ke murid-murid yang lain, khususnya kepada Maria, ibu Yesus.
Maria Magdalena yang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, pergi ke kubur. Kemungkinan besar, dia tidak bertemu dengan rombongan-rombongan sebelumnya. Di kubur yang kosong itu, tangisnya pecah. Tiba-tiba malaikat yang menemui rombongan pertama, menampakkan diri kepada Maria. “Mengapa ibu menangis?”, tanya mereka. “Tuhanku telah dicuri orang”, jawab Maria. Rupanya air mata dan hati yang berduka telah menghalangi Maria melihat kedua orang itu adalah malaikat. Sesaat kemudian ada seseorang yang berjalan masuk ke kubur, berdiri tepat di belakang Maria. Maria menoleh. Tampak seorang lelaki. IA bertanya, “Mengapa ibu menangis?”. Maria pikir laki-laki itu adalah juru kunci kuburan. “Tuan, kalau tuan yang mengambil jasad dari guruku, katakan di mana engkau menyimpannya”, ratap Maria.
“Maria!”, suara laki-laki menyadarkannya. Suara itu akrab di telinganya. Diperhatikannya betul-betul laki-laki itu. “Rabuni (guru)”, jeritnya. Itu Yesus. Dia berlari hendak memegang Yesus. “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Sukacita melimpah di hati Maria. Segera dia pergi mencari murid-murid yang telah dikumpulkan Petrus dan Yohanes. Aku telah melihat Yesus. Ia telah BANGKIT, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.
               
Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Apa makna kebangkitan Yesus untuk Anda? Bacalah 1 Petrus 1:3.
2.       Bagaimana Anda merespon kebanaran bahwa peristiwa kebangkitan terjadi sama seperti yang telah dikatakan Yesus ? Apa yang Anda akan lakukan?
3.       Carilah 2-3 orang untuk menceritakan peristiwa kebangkitan Yesus!





Kisah no. 100

Yesus Menampakakan Diri Di Jalan Menuju Emaus (Lukas 24:13-35)
Kleopas, suami Maria sedang dalam perjalanan ke Emaus dengan temannya. Kota itu berjarak lebih kurang 11km dari Yerusalem. Sepanjang perjalanan itu mereka memperbincangkan kabar-kabar terbaru seputar kematian Yesus. Dulu mereka sama seperti kebanyakan orang mengharapkan Yesus datang sebagai Mesias pembebas bangsa mereka dari penjajahan. Tapi tak disangka, Yesus malah mati dihukum. Kecewalah mereka. Tapi beberapa perempuan termasuk Maria yang berencana meminyaki tubuh Yesus di kubur, tidak menemukan Yesus. Mereka juga mendengar bahwa perempuan-perempuan itu bertemu malaikat yang memberi tahu bahwa Yesus sudah hidup. Begitu juga kabar dari Petrus dan Yohanes. Namun sampai sekarang tidak tahu di mana Yesus berada. Bingung sekali mereka, antara percaya dan tidak percaya.
                Di tengah hangatnya perbincangan mereka, seorang laki-laki menghampiri mereka. Laki-laki asing itu nampak sangat tertarik dengan perbincangan mereka. Dia adalah Yesus. Tapi mereka tidak mengenali-Nya. Lalu Kleopas coba menjelaskan berita-berita yang sedang beredar belakangan ini di seluruh Yerusalem. Mereka juga terheran-heran bagaimana orang itu tidak tahu berita yang sedang jadi buah bibir itu. Yesus kelihatan tidak tertarik dengan berita yang mereka sampaikan. Dia justru mempertanyakan mengapa Kleopas dan temannya tidak bisa menerima kebenaran bahwa Mesias itu harus menderita, mati disalib, baru sesudah itu Dia bangkit membawa kemuliaan. Yesus  lebih tertarik membahas apa yang diajarkan kitab suci. Bagi dia sangat penting agar Kleopas dan temannya bisa memahami yang telah dikatakan dalam kitab suci. Seseorang yang mata rohaninya tertutup tidak sanggup melihat dan mengenali kehadiran Yesus. Yesus menyebutnya sebagai tanda kebodohan dan hati yang tidak percaya.
                Dia mengingatkan mereka bahwa nabi-nabi Allah di masa lalu juga mengalami sengsara. Musa dan nabi-nabi menderita karena dosa bangsanya. Dan mereka juga telah menubuatkan kehadiran Mesias yang akan datang, menderita karena dosa umatnya, namun akan bangkit dan dipermuliakan. Kleopas dan temannya pernah mendengar semua itu, tapi tidaklah jelas maksudnya bagi mereka. Ketika Yesus menjelaskan, terbukalah pengertian mereka. Mesias harus menderita untuk menebus dosa dunia. Tapi Dia juga akan bangkit. Pengajaran itu begitu menggugah mereka, sampai tidak terasa sampailah mereka di Emaus. Ketika Yesus ingin menlanjutkan perjalanan, mereka menahannya. Selain mereka ingin menjamunya, sangat baik kalau dia tinggal dan meneruskan pengajarannya. Mereka seperti dibawa menikmati pengajaran Guru mereka, Yesus.
                Masuklah mereka ke rumah. Belum lagi mereka menyiapkan perjamuan. Laki-laki itu mengambil roti, lalu memecah-mecahkannya. Bukanlah tindakan yang kebetulan. Karena ketika mereka melihatnya, terbukalah mata mereka bahwa laki-laki di hadapan mereka adalah Yesus. Kerap kali mereka melihat Yesus melakukannya, dengan cara itu. Belum sempat mereka berkata-kata, Yesus hilang dari hadapan mereka. Tertegunlah mereka. Heran. Bagaimana mungkin mereka tidak mengenali. Padahal mereka sebenarnya bisa merasakan gelora di hati mereka saat Yesus mengajak mereka bercakap-cakap. Kata Kleopas, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”. Mereka pun memutuskan tidak jadi tinggal di Emaus, kembali ke Yerusalem untuk menceritakan kepada murid-murid yang lain.

 Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Apa yang menghalangi mereka tidak bisa mengenali kehadiran Yesus? Apa yang sering menghalangi Anda untuk bisa mengenali kehadiran Yesus?
2.       Mengapa Yesus tidak menyatakan dirinya secara fisik kepada mereka di tengah perjalanan? Justru mengajar mereka tentang kitab suci?
3.       Seberapa penting firman Tuhan bagi perjalanan kekristenan kita? (bandingkan Ibrani 4:12; Mazmur 119:105)
4.       Pernahkah Anda membaca firman Tuhan dan tidak bisa memahaminya? Berdoalah dan minta agar Tuhan lewat Roh Kudusnya membimbing Anda mengerti arti firman tersebut.




Kisah no. 101

Percaya Walau Tidak Melihat  (Yohanes 11:6, 14:5, 20:24-29)

Namanya Tomas alias Didimus. Kali ini suasananya berbeda.
Dulu …
Dia pernah diajak gurunya, Yesus, pergi ke Yudea. Di daerah sebelumnya banyak orang yang membenci mereka bahkan berusaha melempari mereka dengan batu. Yesus mengajak mereka kembali ke sana untuk menengok sahabat-Nya, Lazarus, yang sakit keras. Sebenarnya dia sudah mengingatkan Yesus. Tapi sang Guru bersikukuh berangkat. “Mari kita ikut Dia, untuk bersama-sama mati di sana”, katanya kepada murid-murid yang lain dengan nada jengkel dan pesimis. Tapi apa yang terjadi kemudian betul-betul di luar akal sehatnya. ”Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa bangkit lagi hanya karena mendengar panggilan Yesus?”, tanyanya dalam hati. Kepercayaannya kepada Yesus bertambah hari itu.
                Satu kali Yesus juga pernah berkata bahwa Dia harus kembali pulang ke rumah Bapa-Nya. Murid-murid bingung tanda tidak mengerti apa yang Yesus maksudkan. Tomaslah yang berani mengungkapkan kebingungan itu. Yesus dengan sabar menjelaskan kepadanya. Tetap dia tidak mengerti. Dan benar apa yang dikatakan Yesus. Hari itu tiba. Guru yang dipujanya itu meninggalkan mereka. Dia pergi kembali ke Bapa di sorga melalui ajalnya di kayu salib. Pupus sudah harapannya. Pribadi yang menjadi sandaran hidupnya meninggalkan dia sendiri dalam kebingungan. Tidak ada teman dan kerabat yang dapat menghibur dan menguatkannya. Semua larut dalam duka.
                Sekarang …
                Dia mendengar sebuah cerita yang lahir dari halusinasi teman-temannya. Yesus bangkit, kira-kira begitu isi ceritanya. Memang belakangan ini dia sering tidak bersama-sama dengan mereka. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa bangkit lagi? Pertanyaan di depan kubur Lazarus muncul kembali di hatinya. Dulu mungkin. Namun, tidak untuk kali ini. Sang pembuat keajaiban itu telah mangkat. Siapa lagi yang akan membangkitkannya? Hmmm, tapi mungkin saja benar apa yang diceritakan teman-temannya. Entahlah, sulit untuk memercayainya.
                “Tomas! Apa yang kau pikirkan?”, tanya Yohanes, sahabat yang sangat mengenal sifatnya. “Masikah kau tidak percaya dengan apa yang kami ceritakan? Yesus bangkit, Tomas!”, kejar Yohanes. Tomas berdiri. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Tomas pergi meninggalkan murid-murid yang lain. Sebenarnya hati gelisah. Antara ingin Yesus benar bangkit, tapi juga sulit untuk percaya Yesus bisa bangkit lagi. Entah bagaimana duka hatinya seperti telah menghapus ingatan dan perasaan waktu dia sendiri menyaksikan Yesus membangkitkan Lazarus. Kalau Yesus hidup mengapa Dia tidak tinggal bersama kami lagi. Di mana Dia sekarang?
                Tomas tidak tahu bahwa demikianlah yang harus Yesus lakukan. Dia sedang menyiapkan murid-murid-Nya supaya mereka sadar bahwa Yesus tidak akan tinggal lagi dengan mereka seperti 3 tahun sebelumnya. Hadir secara fisik. Tapi Yesus tidak pernah meninggalkan mereka walau mereka tidak bisa melihat Dia. Yesus pun memperhatikan Tomas. Dia mendengar perkataan Tomas meminta bukti. Satu minggu itu Tomas sengaja menjauh dari teman-temannya. Dia berusaha melupakan semuanya. Tapi dia tetap gelisah. Dengan langkah berat dia putuskan untuk kembali ke tempat murid-murid biasa berkumpul. Dia mau minta mereka tunjukkan bukti jika benar Yesus hidup, tapi sebaliknya kalau Yesus tidak bangkit, maka dia minta semua orang berhenti menceritakan berita bohong itu.
                Dia ketuk pintu minta diijinkan masuk. Dia ruangan tertutup itu, nampak wajah teman-temannya berbinar dan tersungging senyum sukacita. Sepertinya mereka sedang menantikan sesuatu. Dia memilih untuk diam saja dan berdiri di pojok ruangan. Bukan waktu yang tepat untuk berkata-kata. Sebuah suara tiba-tiba menyentakkan dia. “Damai sejahtera bagi kamu”. Suara itu mendekat. “Lihat tangan-Ku dan cucukkanlah jarimu ke lobang ini. Ke dalam lobang di lambungku juga. Dan jadilah percaya. Ini aku Yesus sudah bangkit”. Suara itu, suara Yesus. Wajah itu, wajah Yesus. Meledaklah hatinya dengan campuran rasa bahagia dan malu. Bahagia karena Yesus benar hidup kembali. Malu mengingat betapa degil hatinya sehingga tidak percaya akan berita kebangkitan Yesus.
                Berlututlah dia dihadapan Yesus. Meluncurlah sebuah pengakuan, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Yesus berkata kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Malam itu hidup Tomas berubah. Sulit memang untuk percaya kepada sesuatu yang belum ada buktinya. Pengalaman hidupnya saat mengikut Yesus menunjukkan hal yang lain. Kali ini sekali lagi cara pandangnya diubahkan. Percayalah lebih dulu kepada kuasa Allah, selanjutnya pekerjaan-Nya yang ajaib akan dengan dapat dilihat dengan jelas. Itulah Iman.
                Pertemuan itu telah mengubah Tomas. Seorang skeptis (selalu ragu-ragu dan tidak gampang percaya) mengaku dengan mulut ke-Allah-an Yesus. Seorang yang pesimis (selalu melihat masa depan secara negatif) dibangkitkan hidup dan harapannya. Dalam catatan sejarah, kemungkinan besar Tomas pergi mengabarkan Injil ke India dan mati sebagai martir di sana.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:
1.       Pada waktu Tomas meragukan kebangkitan Yesus, sebenarnya apa yang sedang diragukannya?
2.       Apa yang Anda pelajari tentang sifat Yesus saat Dia mendatangi Tomas yang meragukan-Nya?
3.       Bacalah lagi perkataan Yesus di ayat 29 dan bandingkan dengan Ibrani 11:1! Adakah sesuatu yang Anda sedang imani? Apa yang akan Anda lakukan?
4.       Ingatkah Anda dengan seseorang yang sangat sulit untuk percaya kepada Yesus? Maukah Anda mendoakan dia?




Kisah no. 102 Bagian 1

Yesus Menampakkan Diri Di Tepi Danau (Yohanes 21:1-14)
Petrus dipulihkan (Yohanes 21:15-23)
Seminggu setelah kebangkitan Yesus, banyak yang terjadi dalam hidup murid-murid yang membuat hidup mereka berubah. Semakin tidak ragu mereka mengikut Yesus. Terakhir Tomas yang mengalaminya. Segera ingatlah mereka akan perintah Yesus untuk mengumpulkan semua orang yang telah mengikut Yesus selama ini di daerah Galilea. Banyak orang di daerah itu yang telah menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Setibanya mereka di Galilea, segera mereka menemui banyak orang itu tentang keinginan Yesus menemui mereka di sebuah gunung.
Yohanes menceritakan sebuah peristiwa penting saat dia bersama enam temannya sedang menunggu keempat teman yang lain berkeliling menyiarkan undangan. Rupanya mereka menunggu di tepi danau Tiberias. Petrus tidak tahan duduk diam menunggu begitu saja. Dia mengajak teman-temannya naik perahu dan menangkap ikan. Sepanjang malam itu tidak ada satupun ikan yang mereka dapatkan. Menjelang fajar menyingsing, ingatan Yohanes kembali di waktu pertama kali Yesus memanggil dia sebagai murid-Nya. Waktu itu mereka juga tidak mendapatkan ikan setelah semalam-malaman mencobanya. Kemudian pagi harinya Yesus mendatangi mereka dan meyuruh mereka untuk melepaskan jala. Dan ajaib ikan-ikan seperti diperintahkan untuk mendatangi jala mereka. Banyak sekali ikan yang mereka dapatkan waktu itu. Saat itulah Yesus memanggil mereka tidak untuk menjala ikan tapi menjala jiwa-jiwa untuk Kerajaan Allah.
Lamunannya terhenti oleh sebuah seruan. “Hai anak-anak, adakah kamu memunyai lauk pauk?”. Mereka tidak terlalu jelas siapa yang sedang bertanya itu. “Tidak ada”, jawab mereka singkat. Lelaki itu berteriak kembali, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh ikan!”. Yohanes tiba-tiba tersadar. Suara itu suara Yesus. Perintah itu sama dengan perintah yang Yesus serukan saat mereka berjumpa pertama kali. “Itu Tuhan”, kata Yohanes. Segera murid-murid menebarkan jala mereka sesuai yang Yesus katakan. Ketika mereka menariknya, jala itu terasa berat sekali karena banyak ikan yang ada di dalamnya. Sementara itu Petrus meninggalkan mereka berlari mendapatkan Yesus. Perasaan Petrus masih campur aduk. Masih terbayang tatapan Yesus tepat saat dia menyangkal Dia tiga kali. Dia menyesal. Ingin sekali dia minta pengampunan. Sesampainya di tepi danau, Yesus menyapanya dengan senyum. Tatapan Yesus masih sama. Penuh kasih dan penerimaan. Belum sempat Petrus berkata-kata, Yesus memintanya membantu menghidupkan api arang.
Ketika murid-murid yang lain mendekat, Yesus menyuruh mereka membawa beberapa ikan yang mereka bawa untuk di makan bersama. Mereka masih terkagum-kagum dengan tangkapan ikan yang mereka dapatkan. Lebih dari 150 ikan mereka tangkap saat itu. Bukan ikan yang kecil. Berat 1 ikan bisa sampai 10kg. Yang hebatnya jala mereka tidak terkoyak. Segeralah mereka duduk melingkar dan makan bersama. Senang hati mereka. Khususnya Yohanes. Tepat seperti ingatannya. Apa yang terjadi persis sama saat Yesus memanggil mereka pertama kali. Sepertinya Yesus tidak asal menemui mereka di tepi danau itu. Dia punya agenda khusus untuk menguatkan hati dan panggilan mereka. Pangilan untuk menjadi penjala manusia.
Setelah selesai sarapan pagi, Yohanes mendengar Yesus berkata secara khusus kepada Petrus. Dia tahu betul sahabatnya itu menderita dengan penyangkalan yang dia lakukan. Dikejar rasa bersalah. Yesus mengajukan pertanyaan, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka mengasihi Aku?”. Yesuslah yang mengganti nama Simon menjadi Petrus. Memberikan arti baru bahwa Petrus akan setegar batu karang dalam melayani Dia. Namun kali ini, Dia memanggilnya dengan nama Simon. Apakah Yesus menyesal karena Petrus ternyata tidak sekuat nama yang Dia berikan? Petrus lari meninggalkannya. Sepertinya bukan itu maksud Yesus. Dia sengaja tidak memanggil dengan nama Petrus untuk mulai mengajak Petrus mengoreksi dirinya. Bahwa selama ini dia hidup hanya dengan kekuatannya sendiri. Cenderung sombong. Ingin lebih dari murid yang lain. Pertanyaan Yesus kali ini masuk jauh ke dalam hati Petrus. Masikah dia berani berkata lebih dari teman-temannya yang lain? Dan benarkah dia mengishi Yesus dari dalam hatinya, bukan hanya karenasok? Hancur hati Petrus. Tapi dia yakin pasti bahwa dia mengasihi Yesus. “Benar Tuhan, aku mengasih Engkau”, jawabnya dengan gemetar.
Yesus berkata lagi “Baik, kalau begitu gembalakanlah domba-domba-Ku”. Kepercayaan kepada Petrus tidaklah hilang. Sekarang hati Petrus sudah hancur. Modal yang bagus untuk menjadikannya rendah hati. Dan mereka yang rendah hatilah yang cocok mengemban tugas menggembalakan pengikut-pengikut Yesus. Yesus kembali bertanya, “Simon, apakah engkau mengasihi Aku?”. Pertanyaan yang sama. Petrus kembali menjawab dengan lebih tenang, “Benar Tuhan, aku mengasihi Engkau”. “Gembalakanlah domba-domba-ku”, pinta Yesus kedua kalinya.
Dan ketiga kalinya, Yesus kembali bertanya, “Simon, apakah engkau mengasihi Aku?'. Tiga kali pertanyaan itu diajukan sama seperti tiga kali dia menyangkal Yesus. Kali ini, air matanya menetes tak tertahan. “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, jawabnya. “Gembalakanlah domba-domba-Ku”, pinta Yesus yang ketiga kali. Pimpinlah mereka dengan sungguh-sungguh. Tiga kali dia jatuh, tiga kali hatinya dikoreksi dan tiga kali juga dia dipercaya lagi. Itulah sifat Allah. Dia sang pemulih. Tidak dibiarkannya buluh yang patah terkulai menjadi putus, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan kebenaran-Nya. (Yesaya 42:3).
“Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Kalimat-kalimat Yesus yang terakhir ini menjadi nubuatan kelak Petrus mendapat anugerah keberanian untuk mati martir. Dulu dia penyangkal, tapi Yesus mengubahnya. Kematiannya demi Tuhan yang dia kasihi dan kemulian Tuhan dinyatakan melalui kematiannya. Sesudah mengatakan demikian Yesus berkata kepada Petrus: ‘Ikutlah Aku.’. Menurut catatan sejarah, Petrus mengikuti jejak Yesus mengabarkan kabar keselamatan kepada banyak jiwa. Dan dia juga mati disalib.

Pertanyaan Renungan dan Aplikasi:

  1. Yesus memanggil murid-murid-Nya menjadi penjala manusia (Markus 1:17). Dia menetapkan panggilan itu kembali setelah kebangkitan-Nya. Menurut Anda apa itu panggilan menjadi penjala manusia? Bagaimana Anda merespon panggilan itu?
  2.  Sebutkan 1 kata jika Anda membaca percakapan Yesus dengan Petrus! Satu kata saja!
  3. Cara utama yang Allah pakai untuk mengoreksi hidup kita saat ini adalah melalui firman-Nya. Roh Kudus melalui firman Tuhan mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik kita supaya hidup dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Berikanlah kesaksian Anda!